Ketika melihat program
“orang pinggiran” yang ditayangkan oleh salah satu stasiun TV nasional, entah
kenapa hati ini selalu bergemuruh. Program yang mengambil tema perjuangan
seseorang dalam “mempertahankan” hidup dan kehidupannya, dengan cara apapun
yang ia sanggup. Program yang menayangkan tentang kerasnya perjuangan dan
perihnya pengorbanan yang harus ditempuh seseorang demi dirinya dan orang-orang
yang ia sayangi. Namun tiada mereka berputus asa. Tiada mereka meminta-minta,
kecuali kepada Yang Menguasai Segala.
Sore
tadi sepulang kerja, dalam sebuah kotak kaca, aku kembali disuguhkan kisah
seorang anak manusia yang harus berjuang keras dengan segala keterbatasannya.
Ia adalah seorang pemuda yang (maaf) cacat secara fisik. Badannya tidak tegap
seperti orang-orang kebanyakan. Tangannya hanya 1 yang dapat ia gunakan untuk
bekerja, karena tangan kirinya hanya sebatas lengan. Kakinya, tidak normal.
Bahkan ia tidak bisa memakai sendal.
Karena keterbatasannyalah jika ia memakai sendal, itu hanya akan merepotkannya
sebab sendal itu akan selalu terlepas dari kakinya ketika ia berjalan. Bapak
dan ibunya sudah sangat tua, yang hanya berprofesi sebagai penggarap ladang
orang lain di kampungnya, itupun jika ada orang yang meminta. Jika sedang tidak
menggarap ladang, bapaknya selalu membuat kincir angin dari kayu untuk dijual.
Lalu begaimana dengan ia? Dengan keterbatasannya, ia berjuang berkeliling untuk
berjualan abu gosok, yang di kampung masih digunakan sebagai pencuci piring dan
perkakas dapur. Abu sisa pembakaran batu bata yang sudah tidak terpakai, yang
terbuang begitu saja, justru menjadi sangat bermanfaat baginya.
Tiap
hari, 1 karung abu dari tempat pembuatan
batu bata, ia angkut ke rumahnya kemudian ia bagi ke dalam plastik-plastik
kecil. Setelah itu, dengan satu tangan, tanpa memakai sendal, ia mendorong
gerobaknya yang membawa abu gosok dan kincir angin buatan bapaknya menyusuri
jalanan tanah dan aspal yang panas karena teriknya sinar matahari. Terkadang,
ia harus menempuh jarak yang sangat jauh hanya demi abu gosoknya terjual. Panas
pada kakinya tidak pernah ia hiraukan, karena ia sadar jika bukan dirinya,
siapa lagi yang akan membantu kedua orangtuanya. Tiap hari, ia menjajakan abu
gosok keliling kampung. 3 plastik abu gosok ia hargai seribu rupiah. Bahkan
jika ia tawarkan ke warung, 10 bungkus ia hargai hanya 2.500 rupiah. Baginya,
penghasilan yang sedikit tidak menjadi soal daripada tidak ada sama sekali.
Walaupun masih di kampung, menjual abu gosok bukanlah tanpa hambatan. Banyak
ibu-ibu rumah tangga yang sudah beralih menggunakan sabun colek buatan
pabrik. Namun ia sadar, dengan
keterbatasannya, hanya ini pekerjaan yang sanggup ia lakukan. Lelah, ya itu
adalah hal yang selalu ia rasakan ketika berkeliling. Namun semangatnya tidak
pernah padam. Daya juangnya tidak pernah kendur. Baginya, panas dan lelahnya
terbayar ketika hasil jualannya telah ia berikan kepada ibunya.
Di
saat waktu luangnya sepulang berkeliling, ia selalu membantu sang bapak membuat
kincir angin kayu. Dengan kemampuan sebisanya, ia membantu mengecat kincir
angin tersebut agar menarik dan terlihat indah. Tidak lupa ketika tiba waktu
sholat, ia selalu menyempatkan diri menghadap Tuhan Yang sangat Menyayanginya.
Mushola kecil dekat rumahnya, menjadi saksi bisu betapa ia adalah seorang yang
taat. Harapannya kepada Tuhan hanya satu, agar ia dan keluarganya selalu sehat,
dan selalu diberkahi rezekinya.
Ketika
dan setelah melihat acara tersebut, sering aku bertanya kepada diriku sendiri,
sudahkah aku melakukan hal yang bisa membantu orang-orang seperti itu?
Orang-orang di luar sana yang sangat membutuhkan bantuan, namun menahan diri
mereka dari meminta-minta. Sudahkah aku memberikan sebagian hartaku untuk
sekedar berbagi kepada mereka? Sudahkah aku membagi sebungkus nasi sekedar
untuk mengenyangkan perut mereka? Apakah aku hanya sekedar melihat kesedihan
tersebut lalu berkata, “kasihan”, tanpa ada upaya untuk memberi pada mereka?
Sudahkah aku..? Ah, terkadang aku malu pada diriku sendiri
“Kasihan”.
Kata yang sering aku ucapkan dari lisan ini ketika melihat orang-orang yang
“kekurangan” seperti mereka. Seorang pemuda yang memiliki 2 buah kaki hanya
sebatas lutut, yang biasa menjadi muadzin di masjid dekat kantorku. Seorang
bapak yang biasa sholat maghrib dan isya di mesjid dekat kosanku, dengan
“seragam” kumuhnya setelah pulang bekerja. Seorang kakek yang ketika
berjalanpun ia sudah terbungkuk dan tertatih, namun masih mau bekerja memulung
gelas platik bekas minuman, yang terkadang aku selalu bertemu dengannya tiap pulang
kerja. Ah, hati kecilku, ia bergemuruh. Namun hanya kata kasihan yang ku
ucapkan. Padahal, mereka mungkin tidak pantas dan tidak mau untuk dikasihani.
Mungkin bagi mereka, “pengasihan” yang mereka harapkan hanya dari Tuhan,
makanya mereka tetap bersemangat dan berusaha, serta menjaga diri dari
meminta-minta. Merekalah yang telah mengajarkan arti hidup yang sebenarnya.
Merekalah yang dengan segala keterbatasan, masih mau dan mampu menjemput
karunia Tuhan, karena pasti mereka percaya, bahwa Tuhan tidak pernah tidur, dan
selalu memperhatikan mereka.
Lalu
bagaimana denganku? Dalam segala kesempurnaanku, di atas segala kelebihanku, di
balik semua kemampuanku, aku masih belum membuka mata, aku masih belum membuka
hati dan fikiranku. Aku masih sering menggunakan apa yang sampai kepadaku hanya
untuk hal yang sebenarnya tidak aku perlukan.
Bahkan aku masih suka iri terhadap orang lain yang mendapat nikmat lebih
banyak dari diriku. Ah betapa diri ini, aku malu. Saat uang makanku sehari,
nominalnya bisa untuk makan selama 5 bahkan 10 hari bagi mereka. Atau, sekali
aku makan, bisa untuk membeli 4 bungkus nasi, ditambah sebungkus kerupuk bagi mereka sekeluarga. Lalu apa yang sudah ku
lakukan untuk mereka? Apa cukup hanya dengan “membayar” kepada para pengelola
zakat dan sodaqoh tiap bulan, lalu setelah itu aku tidak peduli, dan seakan
terbebas dari membantu mereka?
(JF)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar