Jumat, 27 September 2013

Sebungkus Kerupuk untuk Mereka

Ketika melihat program “orang pinggiran” yang ditayangkan oleh salah satu stasiun TV nasional, entah kenapa hati ini selalu bergemuruh. Program yang mengambil tema perjuangan seseorang dalam “mempertahankan” hidup dan kehidupannya, dengan cara apapun yang ia sanggup. Program yang menayangkan tentang kerasnya perjuangan dan perihnya pengorbanan yang harus ditempuh seseorang demi dirinya dan orang-orang yang ia sayangi. Namun tiada mereka berputus asa. Tiada mereka meminta-minta, kecuali kepada Yang Menguasai Segala.
Sore tadi sepulang kerja, dalam sebuah kotak kaca, aku kembali disuguhkan kisah seorang anak manusia yang harus berjuang keras dengan segala keterbatasannya. Ia adalah seorang pemuda yang (maaf) cacat secara fisik. Badannya tidak tegap seperti orang-orang kebanyakan. Tangannya hanya 1 yang dapat ia gunakan untuk bekerja, karena tangan kirinya hanya sebatas lengan. Kakinya, tidak normal. Bahkan  ia tidak bisa memakai sendal. Karena keterbatasannyalah jika ia memakai sendal, itu hanya akan merepotkannya sebab sendal itu akan selalu terlepas dari kakinya ketika ia berjalan. Bapak dan ibunya sudah sangat tua, yang hanya berprofesi sebagai penggarap ladang orang lain di kampungnya, itupun jika ada orang yang meminta. Jika sedang tidak menggarap ladang, bapaknya selalu membuat kincir angin dari kayu untuk dijual. Lalu begaimana dengan ia? Dengan keterbatasannya, ia berjuang berkeliling untuk berjualan abu gosok, yang di kampung masih digunakan sebagai pencuci piring dan perkakas dapur. Abu sisa pembakaran batu bata yang sudah tidak terpakai, yang terbuang begitu saja, justru menjadi sangat bermanfaat baginya.
Tiap hari, 1 karung  abu dari tempat pembuatan batu bata, ia angkut ke rumahnya kemudian ia bagi ke dalam plastik-plastik kecil. Setelah itu, dengan satu tangan, tanpa memakai sendal, ia mendorong gerobaknya yang membawa abu gosok dan kincir angin buatan bapaknya menyusuri jalanan tanah dan aspal yang panas karena teriknya sinar matahari. Terkadang, ia harus menempuh jarak yang sangat jauh hanya demi abu gosoknya terjual. Panas pada kakinya tidak pernah ia hiraukan, karena ia sadar jika bukan dirinya, siapa lagi yang akan membantu kedua orangtuanya. Tiap hari, ia menjajakan abu gosok keliling kampung. 3 plastik abu gosok ia hargai seribu rupiah. Bahkan jika ia tawarkan ke warung, 10 bungkus ia hargai hanya 2.500 rupiah. Baginya, penghasilan yang sedikit tidak menjadi soal daripada tidak ada sama sekali. Walaupun masih di kampung, menjual abu gosok bukanlah tanpa hambatan. Banyak ibu-ibu rumah tangga yang sudah beralih menggunakan sabun colek buatan pabrik.  Namun ia sadar, dengan keterbatasannya, hanya ini pekerjaan yang sanggup ia lakukan. Lelah, ya itu adalah hal yang selalu ia rasakan ketika berkeliling. Namun semangatnya tidak pernah padam. Daya juangnya tidak pernah kendur. Baginya, panas dan lelahnya terbayar ketika hasil jualannya telah ia berikan kepada ibunya.
Di saat waktu luangnya sepulang berkeliling, ia selalu membantu sang bapak membuat kincir angin kayu. Dengan kemampuan sebisanya, ia membantu mengecat kincir angin tersebut agar menarik dan terlihat indah. Tidak lupa ketika tiba waktu sholat, ia selalu menyempatkan diri menghadap Tuhan Yang sangat Menyayanginya. Mushola kecil dekat rumahnya, menjadi saksi bisu betapa ia adalah seorang yang taat. Harapannya kepada Tuhan hanya satu, agar ia dan keluarganya selalu sehat, dan selalu diberkahi rezekinya.
Ketika dan setelah melihat acara tersebut, sering aku bertanya kepada diriku sendiri, sudahkah aku melakukan hal yang bisa membantu orang-orang seperti itu? Orang-orang di luar sana yang sangat membutuhkan bantuan, namun menahan diri mereka dari meminta-minta. Sudahkah aku memberikan sebagian hartaku untuk sekedar berbagi kepada mereka? Sudahkah aku membagi sebungkus nasi sekedar untuk mengenyangkan perut mereka? Apakah aku hanya sekedar melihat kesedihan tersebut lalu berkata, “kasihan”, tanpa ada upaya untuk memberi pada mereka? Sudahkah aku..? Ah, terkadang aku malu pada diriku sendiri
“Kasihan”. Kata yang sering aku ucapkan dari lisan ini ketika melihat orang-orang yang “kekurangan” seperti mereka. Seorang pemuda yang memiliki 2 buah kaki hanya sebatas lutut, yang biasa menjadi muadzin di masjid dekat kantorku. Seorang bapak yang biasa sholat maghrib dan isya di mesjid dekat kosanku, dengan “seragam” kumuhnya setelah pulang bekerja. Seorang kakek yang ketika berjalanpun ia sudah terbungkuk dan tertatih, namun masih mau bekerja memulung gelas platik bekas minuman, yang terkadang aku selalu bertemu dengannya tiap pulang kerja. Ah, hati kecilku, ia bergemuruh. Namun hanya kata kasihan yang ku ucapkan. Padahal, mereka mungkin tidak pantas dan tidak mau untuk dikasihani. Mungkin bagi mereka, “pengasihan” yang mereka harapkan hanya dari Tuhan, makanya mereka tetap bersemangat dan berusaha, serta menjaga diri dari meminta-minta. Merekalah yang telah mengajarkan arti hidup yang sebenarnya. Merekalah yang dengan segala keterbatasan, masih mau dan mampu menjemput karunia Tuhan, karena pasti mereka percaya, bahwa Tuhan tidak pernah tidur, dan selalu memperhatikan mereka.
Lalu bagaimana denganku? Dalam segala kesempurnaanku, di atas segala kelebihanku, di balik semua kemampuanku, aku masih belum membuka mata, aku masih belum membuka hati dan fikiranku. Aku masih sering menggunakan apa yang sampai kepadaku hanya untuk hal yang sebenarnya tidak aku perlukan.  Bahkan aku masih suka iri terhadap orang lain yang mendapat nikmat lebih banyak dari diriku. Ah betapa diri ini, aku malu. Saat uang makanku sehari, nominalnya bisa untuk makan selama 5 bahkan 10 hari bagi mereka. Atau, sekali aku makan, bisa untuk membeli 4 bungkus nasi, ditambah sebungkus kerupuk bagi mereka sekeluarga. Lalu apa yang sudah ku lakukan untuk mereka? Apa cukup hanya dengan “membayar” kepada para pengelola zakat dan sodaqoh tiap bulan, lalu setelah itu aku tidak peduli, dan seakan terbebas dari membantu mereka?

(JF)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar